Bahwa sesungguhya alam ini tanpa noda jika kita tidak dicipta. Lalu mengapa kita diciptakan?
Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaKu. (QS Adz Dzaariyat 51: 56)
Pada dasarnya, semua kebaikan adalah ibadah. Maka tidak ada yang salah dengan tujuan penciptaan itu. Tapi memang, pencapaiannya tidaklah mudah.
Kita diciptakan lengkap dengan hal-hal negatif yang ikut serta, yaitu sifat manusia yang memiliki kecenderungan merusak alam semesta ini. Padahal, tujuan penciptaannya adalah untuk berbuat kebaikan. Jadi, kita sebenarnya diciptakan untuk melawan diri kita sendiri, bukan setan.
Proses pencapaian tujuan mulia itu tidak mudah. Seperti kata pepatah, musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri. Kitalah yang memutuskan bagian mana dari diri kita yang menang, yang positifkah atau yang negatif? Itu sulit memang. Tapi bukan tidak mungkin dilakukan. Toh yang lebih sulit dicapai akan lebih lama bertahan kemudian kan?
Tidak ada yang bisa disalahkan, selain pilihan kita sendiri. Mau menyerahkah, atau terus berjuang agar sisi positif dalam diri kita yang mengambil alih?
Misalnya, dengan berusaha konsisten membuang sampah di tempat sampah. Ya, sesederhana itu.
Dan musibah apapun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu). (QS Asy Syuraa 42: 30)
Pada awalnya, saya tidak punya keinginan untuk menggembok akun twitter saya tersebut. Namun, suatu ketika saya di-mention oleh orang yang tidak saya kenal. Dia kerap berkomentar yang aneh-aneh. Dan sialnya, follower itu tidak bisa di-remove, kecuali dia sendiri yang mulai unfollow saya duluan.
Ketika saya akhirnya membuka daftar follower, ternyata ada banyak akun yang meragukan dan aneh. Atas usul seorang teman, akun tersebut saya proteksi atau gembok sehingga siapapun yang mau follow harus request terlebih dulu dan saya accept. Selain itu, saya juga bisa menolak atau mengabaikan request tersebut.
Tidak ada keinginan untuk mengeksklusifkan akun atau apapun yang mengarah ke sana. Saya hanya ingin melindungi diri saya, seperti namanya: protection.
tinggalkanlah sejenak
hatimu
: pada kepak sayap kupu-kupu dan merpati.
lalu bernafaslah lega,
sedalam lautan dan samudera.
tataplah di ujung cahaya
ada seorang wanita
(menunggumu datang dan merentangkan tangannya).
berlarilah ke batas cakrawala.
menghamburlah pulang ke angkasa,
ke langit yang indah dan bersahaja
: di kedamaian pelukan mama.
Karangbesuki, 150513
Aku tau, perempuan ada jutaan di dunia ini. Ada banyak. Maka dia bukan satu-satunya buatmu. Kau akan selalu punya pilihan baru untuk setiap yang kau tinggalkan.
Tapi tidak buatku.
Dia adalah satu tanpa pengganti. Hatiku bersamanya dalam hidup dan mati. Aku yang menyaksikannya pertama kali tertawa, memperlihatkan dua gigi depannya. Aku yang membuatnya menangis keras berulang kali, karna ulahku yang jahil tak terperi. Aku yang tau, seberapa dalam perasaannya padamu.
Bukan karena dia tidak bilang, lalu perasaan itu lenyap dan hilang. Bukan karena terus diam, lalu dia tidak menangis tiap malam.
Di dunia fana ini, ada hal-hal yang bisa kita pilih, ada pula yang tidak. Mungkin kita bisa memilih agama apa yang kita yakini, ke mana kita akan pergi esok hari. Tapi, apakah kita bisa memilih dilahirkan di mana, dibesarkan siapa, dan memiliki pribadi yang bagaimana?
Semua yang ada di sini adalah ciptaanNya, Tuhan Yang Maha Esa. Oh, kita semua tahu dan meyakininya. Tapi, ada yang meyakininya sebatas kata saja, jarang yang mengimaninya dengan segala sikapnya di dunia.
Percayakah, Tuhan tidak pernah menciptakan sesuatu tanpa guna. Selalu akan ada sisi positif, meski setitik, di antara sisi negatif yang seringkali lebih kasat mata. Apakah karena yang negatif itu lebih terlihat lalu itu saja yang ada? Apakah karena sisi positif tak tampak lalu dinyatakan tidak ada?
Janganlah lupa, setiap makhluk memiliki manfaat terhadap dunia. Bahkan mungkin tanpa kita sadari, terhadap kita.
Tahukah seseorang seperti dia, yang kata orang jutek, pemarah, bicaranya keras dan tanpa filter, punya sisi baik juga di hatinya? Apakah karena dia dilahirkan dengan kepribadian demikian, dibesarkan di keluarga yang penuh penerimaan, lalu menjadikannya jahat di matamu? Padahal, dia seringkali membantu. Meski, tak jarang hasil keringatnya dicaci oleh orang-orang yang hanya bersedia berpangku tangan.
Peribahasa itu, yang pernah kau baca semasa Sekolah Dasar dulu, dan kau berjanji dalam hati tidak akan melakukannya, mungkin sekarang jadi bagian dari langkahmu setiap harinya.
Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak.
Ada
lelaki yang secara tidak wajar berteman dengan perempuan
lalu masih kemudian jatuh cinta pada perempuan lainnya
Ada
perempuan yang dekat dengan lelaki terlampau jauh
lalu kodratnya tidak pernah bisa menganggap pertemanan itu wajar
Ada
lelaki yang tak tahu diri
Ada
perempuan yang lemah karna hati
Karangbesuki, 130513
Saya pikir, jika semua yang di dunia ini dicipta sama, maka akan datar begitu saja. Semua orang sama baiknya dan sama jahatnya.
Semua menyetujuinya, mengakui bahwa perbedaan adalah warna dunia. Tapi apa?
Toh tetap saja ada standar yang diinginkan. Semua harus berusaha mencapai standar itu. Harus. Jika tidak, akan ada penolakan di mana-mana. Mengapa?
Apakah perempuan tidak boleh sekuat baja? Apa harus lemah gemulai dan lembut penuh ketenangan?
Apa semua persepsi harus dibenarkan? Apakah berhak menilai sifat seseorang tanpa pernah betul-betul berinteraksi dengannya?
Apakah…
Oh lelaki
terkadang lupa
bahwa wanita juga dicipta
lengkap dengan sebongkah hati
Oh lelaki
wanita berhati itu sama denganmu
bisa jadi seluas langit biru
atau serapuh kapuk randu
Kenapa lupa?
Kita memang berbeda,
tapi bukankah di mataNya sama?
Kenapa membeda?
Padahal kami tau kau bisa merasa
meski mereka bilang isimu penuh logika..
Karangbesuki, 080513
Ah ya. Saya ingin menuliskan ini. Ingin saja.
Memang, saya benci ditegur atau bahkan dibentak dengan nada tinggi di depan orang lain. Saya termasuk orang yang kritis dan keras. Tetapi, pada kondisi demikian, saya hanya bisa terdiam. Meski ada ribuan kata berusaha mendesak untuk diteriakkan, pada akhirnya saya tidak mengatakan apa-apa. Peristiwa yang demikian membekas dalam benak saya, menjadikan saya ‘mewaspadai’ siapapun yang menegur saya dengan intonasi tinggi di hadapan orang lain.
Lalu, ada seseorang yang menyimpulkan bahwa dengan demikian saya termasuk dalam orang yang suka mendendam.
Saya merasa buruk sekali.